Semua pasti mengisi waktu

 Waktu terus berjalan, sedang kesibukan membuatku lelah. Rasanya ingin berhenti dari semua kegiatan organisasi, kepanitiaan, dan lainnya… ingin rasanya hanya fokus kuliah, meningkatkan akademikku yang kemarin IP-nya sempat turun.

Tapi… kalau ku pikirkan lagi…. Sejatinya waktu terus berjalan, tanpa memperdulikan kegiatan kita apa. Sejatinya, kita akan selalu mengisi waktu itu, apakah diisi dengan belajar atau dengan scrolling IG? Baiknya waktu kita isi dengan sebanyak-banyaknya kebermanfaatan. Itulah gunanya bersibuk diri. Tentunya bersibuk dengan kebermanfaatan dan kebaikan. Bukan hanya melakukan kesibukan yang kosong di hadapan Allah. Kita diberi waktu 24 jam, pasti manusia akan menggunakan waktu itu. Pasti. Tidak mungkin tidak. Bedanya ada yang mengisinya dengan sesuatu yang akan membuat ia berkembang, menjadi pribadi yang lebih baik lagi, ada yang mengisi waktunya dengan kegiatan yang tidak mengubah dirinya, stagnan. Bahkan malah mengurangi kualitas dirinya.

Maka tak apa lelah dalam kesibukan, apabila itu menjadi kegiatan yang kita masukkan ke dalam satu hari 24 jam itu, disbanding 24 jam yang dipakai tanpa melakukan apa pun. Niatnya sih mau ambis… tapi nyatanya, waktu luang malah membuat diri terlena. Sehingga lupa dengan misi-misi yang kita tancapkan di awal. Maka sering didapati hari libur kita tidak menghasilkan apapun. Karena kita merasa tak ada tekanan, tantangan, paksaan. Maka perlu hati-hati dengan waktu luang yang sejatinya menjadi pengisi dalam 24 jam kita, mengisinya dengan kesia-siaan yang hampa di yaumul hisab nanti.

Semester tiga ini, hari-hari ku dihiasi dengan renovasi tetangga di depan rumah. Setiap hari ada saja kebisingan yang ku dapatkan. Namun setelah kuperhatikan dari balik jendela, kuli-kuli bangunan itu terus bersemangat melaksanakan pekerjaan mereka. Hal yang membuat ku tertegun adalah, Ketika seiring berjalannya waktu, yang mana sudah sekitar dua atau tiga bulan mereka menghiasi hari-hari ku dengan suara desingan las. Ternyata rumah tetangga ku hampir selesai. Atapnya yang tadi terbuka lebar, sekarang sudah rapih tersusun genting-genting berwarna merah kejinggaan. Lantai bawah yang tadinya belum berpagarkan semen, kini sudah berdiri tegap betonnya menutupi teras rumah tetangga ku. Lantainya yang dihancurkan satu demu satu, kini sudah berganti dengan lantai yang baru dan lebih indah, tertata dengan rapih. Dindingnya yang tadi terkotori entah oleh debu, semen, tanah, dan catnya terkelupas di beberapa bagian, kini telah berwarna putih bersih. Hebat ya, mereka di masa pandemi ini berhasil membangun sebuah rumah. Produktif banget. Sedangkan, kalian bayangin, apa kalian selama pandemic ini sudah mencipta karya? Semoga sudah ya.

Kalian ingat bahwa ada gadis palestina yang berhasil mengkhatamkan hapalan qur’annya selama masa pandemic? Rasanya melihat diri makin ingin mengumpat di balik selimut. Begitu banyak orang yang berhasil mengisi waktunya dengan kebermanfaatan, bukan kesia-siaan. Karena dengan kita bengong atau tidur-tiduran gajelas, itupun juga termasuk car akita mengisi waktu, hanya saja, kegiatan itu tidak membuahkan pahala bagi kita. Itu bukanlah kegiatan yang akan kita persembahkan kepada Allah di yaumul hisab nanti. Ya kali kita berkata, “ya Allah, aku sudah mengisi waktu ku dengan tidur-tiduran ya Allah, maka mohon masukkan aku ke Surga mu”. Tentu tidak bukan. Pasti yang mau kita tampilkan adalah hal-hal yang kita buat yang bermanfaat untuk sekitar. Bukankah orang yang terbaik adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang yang lain.

Maka ini semua tentang siapa yang bisa megisi waktunya dengan sebermanfaat mungkin.

Comments

Popular posts from this blog

Islam, kenapa arab?